Selasa, 24 April 2012

Menghikmahi Ibadah dari Mikrobia


Sebuah perenungan datang dari praktikum Mikrobiologi Makanan yang dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi PAU (pokoknya ya, di salah satu ruangan di Gedung Pasca Sarjana UGM). Tapi sayangnya, perenungannya tidak atas inisiatif saya sendiri, harus ‘disentil’ dulu sama asisten praktikumnya. Beliau bernama mas Erlangga alumni fakultas TPHP UGM yang kata beliau sendiri sih sudah malang melintang di dunia permikrobia-an selama 4 tahun. Lama ya..dan katanya beliau berharap tahun ini tahun terakhir jadi asisten praktikum :D

Jadi, pas praktikum perdana tanggal 23 April 2012 (Acara Pengenalan Alat sama Acara Uji Pendugaan Coliform) beliau berkata, “Berurusan sama mikrobia itu kayak kita  beribadah. Kita ga tau ibadah kita itu diterima atau enggak kan. Nah kayak percobaan kita, kita ga tau berhasil atau enggak.” maksudnya mas Erlangga kan kita harus nunggu hasil kerja kita itu diinkubasi dulu, baru tahu kerjaan kita itu berhasil atau gagal.

Sebelumnya, sudah tahu mikrobia itu apa? Mikrobia atau mikrobiologi itu makhluk hidup yang kecil banget dan hidupnya dimana-mana. Jadi kehidupan di sekitar kita termasuk udara, pakaian, tempat beraktivitas, peralatan di sekitar kita, itu pasti terkontaminasi makhluk kasat mata ini. Saking kecilnya si mikrobia, sampai harus dibantu mikroskop buat lihat langsung keimutan dan keganasannya (kalo jamur sih kadang bisa dilihat langsung). Nah, mikrobia ciptaan Tuhan ini ada yang baik hati tidak sombong dan suka menolong, tapi ada juga yang jahat nakal hobi merusak dan bikin penyakit. Ya kurang lebih seperti manusia dan golongan jin gitu deh, ada yang taat sama Allah tapi ada juga yang kafir dan berbuat kerusakan serta berpenyakit hati. Cukup ya selayang pandang tentang mikrobia, kalau mau yang lebih detail boleh lho ikutan mata kuliah Mikrobiologi :D hehe


                                         Nih, salah satu mikrobia ciptaan Allah..


Lalu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ibadah itu adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangannya. So, wujud dari beribadah itu tidak melulu sholat atau berdoa, tapi melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya itu yang disebut Ibadah.

Saya khususnya, sudah hidup hampir 20 tahun. Itu bukan waktu yang singkat untuk menjalani sebuah kehidupan di dunia yang kata Allah cuma sementara dan sebentar ini. Selama mengemban amanah untuk hidup di dunia, harusnya kita ngapain sih? Kalau berdasarkan surat cinta dari Rabb Penguasa Alam sih: Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun. Yang artinya: Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku. Dan biar hidup kita ini dapat raport bagus dari Dia, berarti segala aktifitas yang kita lakukan selama hidup itu harusnya diniatkan sebagai ibadah kan ya :) yuk lanjut.. Tapi masalahnya adalah, aktifitas yang saya niatkan sebagai ibadah selama saya hidup ini diterima, diabaikan, atau bahkan ditolak ya sama Allah? #gigitjari

Walaupun kegalauan serupa juga melanda, soal keberhasilan pekerjaan kelompok saya di praktikum itu, tapi sungguh hati saya berteriak (ini perlebay-an versi saya :p) soal ibadah saya. Saya bermimpi dan berdoa untuk dibersamakan di surga kelak dengan orang-orang yang saya cintai dan saya rindukan kehadirannya. Tapi kalau ibadah saya tidak masuk kategori ACCEPTED, terus kalau menyelamatkan diri sendiri dari tiket masuk neraka saja belum mampu, lalu bagaimana saya akan melepas rindu dan hidup bahagia di surga? T.T astaghfirullahal’adzim, naudzubillahimindzalik


Saya teringat dulu pernah membaca tentang Sholat Khusyu’. Tahapan terakhirnya dari sholat khusyu’ adalah pasrah, menyerahkan ibadah kita sepenuhnya kepada Allah. Jadi terserah Allah, ibadah kita akan diterima atau tidak. Yang penting dilakukan adalah aktifitas ibadah itu LURUS, mulai dari niatnya sampai diakhiri dengan menyerahkan urusan kita pada Rabb.
Wallahualam bisshowab, hanya Allah yang tahu bagaimana nasib ibadah-ibadah kita, bagaimana perhitungan amalan kita, dan dimana tempat persinggahan terakhir kita: SURGA atau NERAKA.


Terlalu banyak perbandingan, pengandaian, contoh, dan teguran dari Allah untuk kita abaiakan. Selanjutnya bagaimana kita menyikapi, menyadari, mengilhami atau menghikmahi kesemuanya itu lebih penting dari pada memikirkan nasib ibadah yang sungguh hanya Allah yang tahu.

Bahkan masalah ibadah ini hanya sedikit dari yang bisa diilhami dari urusan mikrobia. Masih buanyak aspek yang akan menjadi perantara perbandingan, pengandaian, contoh, dan teguran dari Allah. Bukan hanya mikrobia, tapi yang lainnya juga :)

Bismillah semoga selalu menjadi perenungan yang indah dan bermanfaat untuk saya khususnya..aamiin
dan semoga percobaan kelompok saya berhasil ya :D



             Pas praktikum bikin yang beginian, namanya teknik streak plate buat isolasi mikrobia. Semoga berhasil ya percobaan kelompok saya #prayhard


Selasa, 14 Februari 2012

Tanda Hati di 14 Februari...

Postingan ini terinspirasi momen yang didewakan oleh pasangn (berzina) terutama yang imannya sedang obralan..ah langsung aja, VDay atau Valentine Day. Tanggal 14 Februari, yang dianggap sebagai hari kasih sayang *Oh My GOD -___-*

unyu kali ya, kalo dikasih yang beginian :3

Sebelumnya, yuk coba ditilik kembali sebenernya kenapa sih sampe tanggal 14 Februari diikrarkan sebagai VDay..
Pada tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya dengan penguasa Romawi pada waktu itu yaitu Raja Claudius II (268 - 270 M). Untuk mengagungkan dia (St. Valentine), yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cobaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai 'upacara keagamaan'.

Tetapi sejak abad 16 M, 'upacara keagamaan' tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi 'perayaan bukan keagamaan'. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari.


Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani(Kristian), pesta 'supercalis'  kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai 'hari kasih sayang' juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropa bahwa waktu 'kasih sayang' itu mulai bersemi 'bagai burung jantan dan betina' pada tanggal 14 Februari.


Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang bererti 'galant atau cinta'. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari. Dengan berkembangnya zaman, seorang 'martyr' bernama St. Valentino mungkin akan terus bergeser jauh pengertiannya(jauh dari arti yang sebenarnya). Manusia pada zaman sekarang tidak lagi mengetahui dengan jelas asal usul hari Valentine. Di mana pada zaman sekarang ini orang mengenal Valentine lewat greeting card, pesta persaudaraan, tukar kado dan sebagainya tanpa ingin mengetahui latar belakang sejarahnya lebih dari 1700 tahun yang lalu.


Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa moment ini hanyalah lebih bercorak kepercayaan atau animisme belaka yang berusaha merusak akidah muslim dan muslimah sekaligus memperkenalkan gaya hidup barat dengan kedok percintaan, perjodohan dan kasih sayang.


“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”. (Hadist)

Jadi udah jelas kan tentang sejarah dan mudharatnya perayaan hari kasih sayang itu..
Lagian aneh juga ya, bukankah ketika menyayangi dan mencintai seseorang (yang halal dan pantas dicintai dan disayangi) berarti kita akan melakukannya selamanya? Bahkan inginnya sampai alam akhirat nanti tetap dibersamakan, di surga tentunya. Aamiin :)

Tapi kenapa jadi bermunculan momen yang mengatasnamakan cinta&sayang tapi cuma berlangsung sehari doang. Contohnya: Hari Ibu, Hari Kasih sayang, Hari Ayah, dll. Silahkan berkilah mengenai esensinya yang bukan sekedar berlangsung sehari. Tapi tetap aja, perayaan cintaku buat orang-orang yang aku sayangi itu ya setiap hari. Bukan dengan ucapan lugas, bukan dengan kado yang kadang menguras tabungan, bukan dengan kue atau batangan coklat..tapi dengan DOA.

Rabbi, inilah aku yang merengek sambil tertunduk dan tangan yang menengadah..mengaharap-Mu

Terkhusus ya buat orang-orang yang disayangi&dicintai dengan sangat sangat sangat, tapi ga ada di samping kita. Kalo sekedar terpisah jarak dan waktu sih bisa dikirimin macem-macem. Secara teknologi komunikasi dan transportasi udah majuuu tak gentar! :D
Nah, in case perbedaan dimensi kehidupan?? Ya mau ga mau jalan satu-satunya untuk setia mencintai&menyayangi cuma dengan DOA. titik.

Emang ya, Islam itu ga bakalan mengajarkan hal-hal yang useless, ga ada manfaatnya, kebanyakan mudharatnya. Uuuuh, makin in love deh sama agama Allah SWT ini :*

nb: maaf ya tidak bermaksud menghinakan kepercayaan masing-masing orang, tapi ini adalah instropeksi yang mendalam... Dengan lebih global, coba aja direnungi manfaat serta keburukan yang datang dari perbuatan yang dilakukan. Setiap insan berilmu pasti bisa paham kok kenapa terlalu rugi merayakan hal-hal tersebut.

Senin, 13 Februari 2012

Curcol Edisi Liburan (part 1)

Kali ini judulnya adalah berbagi cerita tentang liburan saya yang lumayan panjang, tapi bentar lagi udah mau masuk kuliahnyaaa T.T *sedih*
Sebenernya ya kegiatan selama liburan begitu-begitu aja. Soalnya saya ga mengagendakan liburan benar-benar ke manaaa gitu. Kemaren sempat diajakin sama Bulek buat ikut ke rumah beliau di Sidoarjo, kata beliau saya ndeso soalnya belum liat lumpur secara langsung *sedih* Tapi dengan alasan keamanan, yaitu pulangnya nanti saya ga ada yang nemenin akhirnya gatot (re: gagal total) ajakan maut beliau. Pun demikian tidak mengurangi kebahagiaan saya menikmati liburan hampir satu bulan ini. hehe

Kenapa ya kok saya malah seneng stuck di rumah yang sama, aktivitasnya sama pada waktu yang sama hampir setiap hari, dan yaa cuma begitu. Ini salah satu kalimat sindiran yang saya terima dari temen-temen (-_-) Kesannya saya tu melaaas pol. Padahal yo biasa aja. Bagi saya yang terbiasa ga mengagendakan liburan buat pergi hedon entah kemana, liburan ga ngapa-ngapain di rumah aja mantengin tv atau laptop mah udah biasa banget :D Eits, jangan dianggap saya masuk gerakan anti duniawi, anti senang-senang, atau semacamnya. Yah karena di rumah itu saya merasa senaaaangnya bukan main. Dimana tempat yang bisa memberikan rasa nyaman dan aman selain rumah? Saya udah jatuh cinta sama rumah..eh maksudnya sih kampung halaman saya Kuncen tercinta. Karena sebenernya tempat tinggal saya tu juga nomaden. Kadang di rumah Bapak, di rumah Eyang, di rumah Simbah..tapi kesemuanya beralamat di Kuncen. haha

Satu hal yang saya sadari, ketika ada di rumah di saat itulah peran dan fungsi saya sebagai anggota keluarga bisa maksimal. Kalo dengan bahasa saya, saya nyebutnya ketika ada di rumah itulah kesempatan emas buat bisa birrul walidain (mengabdi, berbakti kepada orang tua). Karena saya terlalu (mencari) kesibukan di luar sana, jadi saya terlalu menelantarkan rumah seisinya. Meskipun ya, waktu di rumah itu lebih banyak jadi kesempatan buat istirahat dan nyantai, jadi kalo kebanyakan dimintain tolong atau disuruh-suruh kadang mulutnya jadi sambil manyun dan mukanya jadi kayak baju belum disetrika (re: kusut). hehe *maaf ya sodara-sodara, bagian ini tolong banget ini aib ga boleh ditiru T.T*

Walaupun saya statusnya orang Jogja yang kuliahnya cuma di kabupaten sebelah, UGM, jadi maksudnya saya bukan anak kost, tapi tetep aja saya itu kalo di rumah useless banget (subjektif saya sendiri lho ini). Yang bisa dikerjain maksimal nyapu sama ngepel, selebihnya ya cuma ngerjain tanggung jawabnya sendiri. Pagi-pagi udah capcus pergi, entah ke kampus atau tempat nglayap yang lain. Kalaupun ngampusnya siangan, ada aja yang dikerjain urusannya sendiri. Pulang ke rumah, dari 7 hari dalam seminggu paling banyak 2 hari bisa nyampe rumah sebelum matahari terbenam. Jadi ya minim banget waktu yang saya berikan buat orang rumah, terutama Eyang. Kan saya nemenin Eyang. Walaupun 'nemenin' itu pada kenyataannya cuma berupa kehadiran barang-barang saya di dalam rumah yang berarti orang ngirain saya eksis di rumah itu, dan juga nemenin beliau tidur (kadang nemenin nonton sinetron RCTI juga) *sedih*

Minggu, 12 Februari 2012

Baju Romantis: Sarimbit.

Sebagian besar orang Jogja&Jawa Tengah seharusnya ngerti lho maksud judul di atas apa. hehe
Ketertarikan saya pada 'baju romantis' bernama Sarimbit sebenernya udah lama. Khususnya setiap 'njagong manten' atau kondangan, saya selalu menyempatkan waktu untuk curi-curi  pandang melacak pasangan berseragam romantis ini. Kurang kerjaan emang. Harusnya kalo dateng kondangan kan enaknya makan makan makan dan minum ya, kok ini malah nyariin orang yang (mungkin) kenal aja enggak.

pasangan yang menggenakan Baju Romantis: Sarimbit

Sarimbit adalah pakaian sepasang asli Indonesia, model potongan laki-laki dan perempuan yang menggunakan kain bermotif batik yang sama atau hampir sama. Biasanya pakaian ini digunakan oleh pasangan yang telah menikah. Modelnya macem-macem banget, tapi buat yang laki-laki biasanya modelnya monoton. Kemeja. Nah beda urusan kalo yang perempuan. Dari mulai kemeja, blus, blezer, long dress, short dress, yu-ken-si (you can see) dan lain sebagainya (sampe ga ngerti lagi namanya, saking buanyak macem modelnya -_-). Sebenernya pengen juga mbahas tentang harga, tapi nanti dikirain mau jualan sarimbit. Oh ya bagian bisnis baju batik dll nanti di post di judul yang lain :)

Awam menilai menggenakan sarimbit fungsinya biar modis, eksis, serasi, dan menunjukkan pada dunia bahwa "Yang pake baju identik sama aku itu pasanganku lho!". Tapi menurut saya, esensi menggunakan baju sarimbit tidak melulu soal fashion atau bahkan prestise aja. Ada sisi sensitifitas perasaan pasangan pada baju sarimbit, makanya saya lebih suka menyebutnya Baju Romantis. Meskipun romantisme percintaan ga cuma ditunjukkan lewat apa yang dikenakan. Tapi jujur ya, rasanya melting banget gitu kalo liat ada pasangan yang dateng kondangan pake sarimbit. Dari jauh, sebelum masuk pintu aja udah kelihatan. Romantis. Harmonis. Sakinah. Mawaddah. Warohmah. Ya meskipun sarimbit ga bisa jadi indikator kualitas sebuah hubungan. Tapi lagi-lagi ga tau kenapa saya seneeeeng banget liat pasangan yang pake sarimbit, terlebih pasangan yang sudah berumur.

Salah satu temen saya pernah bilang, "Bapak sama Ibukku mana pernah dateng kondangan pake baju yang sama (re: sarimbit). Padahal bajunya yang kembaran banyak lho di lemari." Karena saya lumayan deket sama keluarga temen saya itu, menurut saya kualitas hubungan keluarga beliau bagus, baik-baik saja. Tapi kemudian ketika temen saya bertutur demikian, ada sesuatu yang hilang tiba-tiba. Rasanya...wah, sayang banget ya beliau berdua ga pernah pake sarimbit. Random banget ya perasaan, cuma gara-gara sepasang pakaian jadi under estimate gitu. hehe
Dan sayangnya prasangka saya itu benar kok, Bapak nya temen saya itu ga romantis emang. ups...

Kembali lagi ke jalan yang sesat..eh maksud saya kembali lagi ke topik. Nah dari situ saya makin yakin kalo sarimbit itu menjadi perlambangan sebuah rasa yang sulit dideskripsikan, apalagi digambarkan. Perasaan yang dikaruniakan kepada sepasang manusia, yang cintanya bahkan menjadi amal ibadah. Jadi bukan hanya sekedar unyu unyu-an ala anak muda yang sedang dimabuk asmara. Maunya pake apa-apa sama, serupa, identik, biar dunia tau kalo mereka adalah pasangan kekasih (re:pasangan berzina). Saking mabuknya, sampe ditulisin segala. "A for B" "B for A" "C is mine." atau malah dituker namanya. Barangnya si A dinamain B, barangnya si B dinamain A. (Ealah, emang pikirannya ikutan ketuker kebalik kalo gitu -_-)

Jadi kesimpulannya, saya memandang sarimbit itu sebagai sebuah pakaian yang sarat makna. Bukan cuma harus dikenakan pas kondangan biar dunia paham kalo yang menggenakan itu pasangan. Tapi sarimbit itu dikenakan sebagai pilihan hati yang tulus. Romantis banget sih,,yang nulis aja sampe melting sendiri ^^ (maaf ya terlalu terbawa suasana)

Mau pake sarimbit?
*mauuuu banget!*
Romantis itu pilihan kok ;)

Senin, 28 November 2011

usil pagi-pagi :D

wuah, sudah lamaaaaa sekali ga buka dan update blog :(

nah, kebetulan saya pagi ini lagi usil banget, karena ternyata kuliah jam 8 dan jam 10 kosong (-____-) saya bermaksud ngshare keusilan saya. hehe
jadi ceritanya, saya itu usil ngetik apa yang disampaikan seorang ustadz pada sebuah acara kajian di FK UGM. jadi..saya usil ngepost hasil keusilan saya. berikut hasil keusilan tangan saya ;)


Manusia adalah makhluk yang sempurna. Sadar bahwa hidupnya belum sempurna adalah proses menjalani hidup menuju kesempurnaan.

        -Lapar, ngantuk, lelah adalah hidayah tingkat terendah yang sifatnya reflektif/spontanitas.
2.       -Dimensi hayawaniyah. Manusia juga punya syahwat, libido, selera tentang rasa warna dan bau. Adalah hidayah indrawi/hidayah alkhawasi. Manusia puya hidayah ini pada masa pubertas. Hanya isyarat hidayah untuk fungsi reproduksi. Kalo diikuti nanti tidak akan tercapai cita-ita hidupnya, akan ada resiko: biologis, psikologis, sosiologis, akademis, historis (kesadarannya antara laki-laki dan perempuan berbeda), teologis.
3.       -Dimensi basyariyah: homosapien. Mulai ada kreatifitas, bagaimana menjadikan. Manusia mampu mengembangkan scince dan teknologi. Tapi produk-produk teknologi bukan jaminan untuk ketentraman. Barang bergengsi sering menganggu, sedangkan barang berfungsi sering membantu.
4.       -Dimensi tafsiyah. Manusia punya emosional quotion. Manusia membutuhkan stabilitas, ketentraman, keharmonisan.
5.       -Dimensi ruhiyah. Manusia membutuhkan idealisme.

Lima dimensi itu ada dalam diri kita, ada dalam islam. Bedanya islam sama agama lain adalah Tuhannya Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Memberi apa yang kita butuhkan dan juga menyanyangi yaitu dengan memberikan aturan-aturan untuk meloindungi kita. Termasuk aturan hubungan laki-laki dan perempuan.

Di surat al hujurat:13 , laki-laki dan perempuan harus saling mengenal. Wanita harus mengenal kelaki-lakiannya laki-laki, dan laki-laki harus mengenal kewanitaannya wanita.
Ali imran 113, al baqoroh 235: jatuh cinta, merindukan pasangan.

Match secara komperehensif: laki-laki 23, wanita 18 (menikah dengan yang seusia berarti membangun hubungan yang inkonvensional, berarti harus dengan manajemen yang inkonvensional. Sebelum 40 tahun ga masalah, tapi kalo udah di atas 40 tahun mulai bermunculan masalah). Ar ruum:21

Tuntutan internal dan tuntutan eksternal, yang mana?
Menikah untuk pasangan yang mampu, bukan yang mau. Mampu: financial, emosional, mental, ilmu pengetahuan. Fiqh pergaulan untuk menuntut perjalanan pergaulan laki-laki dan perempuan.
Fiqh pergaulan laki-laki dan perempuan itu habluminannas: semua boleh dilakukan kecuali yang dilarang. Larangan yang harus diketahui:
Pendidikan untuk anak-anak: maskulinitas dan feminimitas, mengenalkan mahram, menundukkan/menjaga pandangan, mendidik untuk tidak melakukan ikhtilat serta khalwat, mendidik untuk tidak bersalaman atau bersenuhan dengan lawan jenis secara sengaja, berdandan tidak tabarruj, memisahkan tempat tidur, mengenalkan waktu-waktu berkunjung, dll.

jujur saat masuk ke ruangan tempat kajian itu, saya bener-bener ga tau kalo saat itu acaranya kajian, materinya TRUE LOVE vs FALSE LOVE. salah agenda aja udah membingungkan, apalagi ternyata dapet materi yang..wow. jadi ceritanya, saya dapet jarkom H-1 kalo mau ada General meeting sebuah kepanitiaan, eh paginya dapet jarkom lagi kalo ada kajian rutin di tempat dan waktu yang sama. lah kan saya bingung (-____-) karena yang mendesak waktunya adalah kepanitiaan itu, saya kan nangkepya tetep akan General Meeting. eh ternyata..badalaaa, saya salah nangkep :D

Kamis, 30 Desember 2010

Rezim Gizi (???)

Wah, kenapa ya saya bikin judul kayak gitu??
(tuu kan yg nulis malah bingung) :D

Berawal dari, saya sekarang sering ditanya sama teman-teman dan bahkan saudara serta para tetangga tentang: diet buat nurunin BB gimana? diet buat naikin BB gimana? kalo anak bayi umur 6 bulan maemnya gimana?? dan blablabla masih banyak lagi..

Well, mungkin status  mahasiswa S1 Gizi Kesehatan yang saya sandang membuat banyak pertanyaan seputar gizi berdatangan..padahal ilmu saya tentang hal tersebut masih miniiiiim sekali (aduh kasian deh, terus kamu selama ini belajar apa??!) Oke, lupakan! itulah awal mula kenapa muncul judul seperti itu di kepala saya dan selanjutnya tertulis deh! :D

Selama ini, yang sudah berakar dan mendarah daging (sorry agak lebay :p) di masyarakat bahwa asupan makanan dan zat gizi lainnya yang baik adalah yang memenuhi aturan 4 Sehat 5 Sempurna. Komposisinya: makanan pokok, lauk nabati&hewani, sayur mayur, buah, dan disempurnakan oleh susu.


Aturan pakainya, eh maaf, maksudnya aturan konsumsinya?? Ya sesuai keinginan. Kalo lapar ya makan, kalo engga ya ga usah. Wow! super bener..
Jadi beginilah wajah kualitas gizi masyarakat. Yang makan terus overnutrition, yang ga makan undernutrition. sehingga kini semerbak wacana tentang double trouble nutrition (masalah gizi ganda). Dalam satu keluarga akan ada anggota yang gemuk, dan ada yang cungkring (kurus kebangetan). Ironis sekali tampak luarannya..

Pada saat saya kuliah Filsafat Ilmu bersama profesor Soekirman, akrab disapa prof Kirman, beliau menjelaskan panjang lebar dan menceritakan perjuangan beliau mengenalkan Gizi Seimbang kepada masyarakat Indonesia. Dan tentunya menggeser mindset masyarakat dari Rezim purba 4 Sehat 5 Sempurna pada Gizi Seimbang.

apa alasan beliau 'ngotot' setengah mati (setengahnya masih hidup kok :D) mengganti rezim gizi yang sudah sangat dekat dengan masyarakat Indonesia??

Senangkep saya adalah karena beliau ingin Indonesia sehat. Mulia sekaliiii (terharu..)
Tapi memang, Gizi Seimbang itu menyenangkan sekali lho :)
aturan dan prinsipnya sungguh indah..dan yang penting mudah :)

Oia, kenapa saya menggunakan kata 'rezim' dalam hal pergizian ini?
Karena bahkan masalah gizi pun sekarang jadi oper-operan, mainan untuk kepentingan politik. Sedih sekali mengetahui betapa kepentingan politik pada akhirnya 'nggondeli' kemashlahatan umat. Nah, disinilah PR untuk para tenaga gizi khususnya dan masyarakat yang sudah tahu pada umumnya untuk ikut andil membantu prof Kirman.
semangat!
Sehat itu nikmat :) Gizi Seimbang itu menyenangkaaaaan :D

Minggu, 26 Desember 2010

layang-layang



Hidupku sekarang bebas.
Aku layaknya layang-layang.
Kertas-rangka adalah aku, ujung tali pengikat adalah di tanganku
Jika lewat angin menerpa,
Akan dengan cara apa aku bertahan?
Atau bagaimana aku melawan?
Dan seperti apa angin itu kuperlakukan?
Semuanya terserah padaku
Karena sekarang aku layaknya layang-layang.

Langitku luas,
Kadang sepi tapi sering terlalu ramai
Jaga, dan jaga agar terbangku tak pernah terlalu tinggi dan jangan sampai terlalu rendah
Jaga, dan jaga agar taliku kuat serta tampak menjadi penguatku
Jaga, jaga, jaga
Agar tetap setia melayang bersama mendung, hujan, pelangi, terang mentari, terik tengah hari, ceria hari cerah, dan dingin malam bersama atau tanpa bulan gemintang
Karena sekarang aku layaknya layang-layang.

Ada tanah di bawahku jika aku terhempas
Sakit. Rusak. Koyak. Sulit berdiri, hamper mustahil
Ada nuansa luas di atasku jika aku terlepas
Lepas. Hilang. Tak sesaat. Sulit kembali, hampir mustahil
Aku hanya perlu terbang tenang
Sesekali terlalu riang, sesekali agak diam
Bersama banyak layang-layang lain, aku tetap harus terbang teratur
Tak usah terpengaruh nanti bisa bergoyang keruh
Tak usah terikat nanti melilit lalu putus singkat
Karena sekarang aku layaknya layang-layang.

Karena sebuah layang-layang diterbangkan dengan pengorbanan dan perjuangan
Karena sebuah layang-layang dijaga tenang dengan penuh semangat serta perhatian
Karena sebuah layang-layang adalah aku yang punya tujuan:
Terbang meninggi untuk mencapai sebuah tempat indah di ujung langit sana, sebagai akibat perjuangan dan pengabdian
Karena sekarang aku layaknya layang-layang
Yang masih akan terus terbang anggun tanpa niatan untuk diakhiri sebelum waktunya.

Laa rokhah illa fil Jannah J

Alhadulillah wa syukurillah atas nikmat nafas untuk senantiasa beriman, berislam, istiqomah, serta qona’ah..
Bismillah, bersiap untuk hari yang mungkin lebih indah mungkin tidak. SEMANGAT!!