Senin, 25 April 2016

Winter, Spring, Summer, and Autumn

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh..

Postingan pertama setelah sekian lamaaa, dan postingnya ga di Tanah Air lho~ *njuk ngopo?* hehehe
Sedikit curhatan, rangkuman setahun lalu, dan pengingat diri juga. Sekarang sudah 2,5 bulan tidak tinggal di kota penuh pembelajaran itu. Terima kasih untuk semua kisah, tawa, dan tetesan air mata *halah*
Percayalah sesungguhnya pengen nulis lebih banyaaak *pengen curhat lebih banyak lebih tepatnya. ealah*, tapi ini pun nulis karena pengen ikut writing competition terus dibatasi 5 halaman gitu. Jadilah dibuat singkat, padat, dan meski ga jelas hehehe

=====================================================================

Winter pertama: Tuhan, mohon hangatkan imanku.
Sudah beberapa waktu yang lalu aku tiba di sini, tempat baru yang memintaku untuk banyak beradaptasi. Sekarang sudah tidak lagi mengawali hari dengan titik-titik air yang entah bagaimana bisa keluar dari sudut-sudut mata. Di sini hari tidak diawali dengan sahutan kumandang adzan, layar televisi tidak terkoneksi dengan siaran tausiyah pagi, tidak terdengar ayam berkokok, dan dingin sekali. Mungkinkah itu yang mengundang air mata? Entah.
Lepas habis rakaat shubuh aku bergegas masuk kembali ke dalam selimut, lengkap dengan mukena yang sengaja belum dilepas untuk melanjutkan dzikir serta tilawah tanpa bersuara. Sengaja lampu kamar tidak pernah aku nyalakan saat ibadah shubuh, demi tidak mengganggu teman sekamarku. Sampai nanti sinar matahari mengintip malu-malu dari jendela, maka pagi di sini baru dimulai untuk hampir semua penduduknya. “Selamat pagi!”, demikian aku dan teman sekamar akan saling menyapa.
“Hari ini kamu pakai jilbab warna apa?”, hampir setiap pagi teman sekamarku antusias untuk tahu warna dan tipe jilbab macam apa yang akan aku kenakan. Dengan binar mata yang selalu sama, gadis cantik yang berbagi ruang denganku itu akan selalu memuji hijab yang aku gunakan menutup aurat. Tapi sayangya pakaian yang aku bawa dari Tanah Air tidak pernah cukup hangat untuk menemani musim dingin pertamaku di sini. Bagaimanapun “tubuh tropis” ini tidak pernah merasa hangat, kecuali saat berrjarak kurang dari sejengkal dengan penghangat ruangan.
Orang bilang, akan selalu ada “pertama” dalam hidup ini. Pertama kali kamu menangis bersama nafas pertama sesaat setelah kamu lahir, kemudian pertama-pertama selanjutnya yang bahkan kamu tidak ingat rasa dan sensasinya. Di sini, pertama kali aku melihat dan menyentuh salju. Bagaimana rasanya? Es serut, persis sama hanya jumlahnya yang begitu banyak. Aku tidak tahu bagaimana menerangkan fenomena terjadinya salju, yang aku tahu bahwa ciptaan-Nya begitu luar biasa. Kita bisa bersuci dengan salju, karena hakikatnya benda putih tersebut suci dan mensucikan. Mungkin nanti di musim-musim dingin selanjutnya, ketika tubuhku tidak lagi ringkih terhadap dingin, aku ingin mencoba berwudhu dengan salju.
Hari itu turun salju lebat sejak petang, sampai aku meninggalkan kampus salju masih turun dan bumi tertutup putih sempurna. Aku berusaha hati-hati melangkah melewati salju yang tebal, tapi takdir malam itu berkata: aku harus terpeleset. Salju yang menumpuk akan membeku menjadi es dan membuat jalan licin. “Bagaimana kalau lepas saja rokmu? Ganti dengan pakaian yang lebih nyaman. Di musim dingin dan banyak salju style pakaian kamu tidak cocok.”, Profesor menasehatiku.
Tapi, aku merasa nyaman dengan pakaian ini. Aku berusaha menjelaskan, “Mungkin aku terpeleset karena kurang hati-hati. Nanti akan kubeli sepatu yang cocok dipakai di musim dingin dan jalan licin.”. Berusaha lebih hati-hati untukku adalah jalan keluar yang baik agar tidak jatuh lagi. Bukan dengan berpakaian lebih pendek, lebih ketat, apalagi melanggar aturan agama yang kuyakini.

Spring pertama: Semusim cinta penuh rasa syukur.
Musim dingin memaksa semua makhluk di bumi harus sanggup bertahan hidup. Para binatang hibernasi dengan caranya masing-masing, manusia berpakaian lebih hangat, serta pepohonan yang menyisakan ranting-ranting polos tanpa daun hijau. Kemudian saat daun-daun kecil mulai berani menampakkan diri dan kucup-kuncup bunga tumbuh, tahulah kita bahwa musim semi akan segera datang. Ini musim semi pertama. Tidak hanya aku yang menikmati, tapi penduduk sekitar juga berbahagia bisa bertemu dengan musim semi. Bukan. Lebih tepatnya aku merasakan alam raya berbahagia melepas dingin dan menyambut udara yang menghangat. Hadiah indah untuk semua yang bersabar melewati dingin, selamat datang bunga-bunga.
Kalau kamu mungkin pernah menemukan sesosok wanita berjalan lambat, hampir berhenti di setiap titik berbunga, serta tidak berhenti merekah senyum dan berucap syukur..mungkin itu aku. Pada dasarnya aku berjalan lebih lambat dari orang-orang di sini. Kemudian musim semi ini membuat irama berjalanku menjadi semakin lambat. Perjalanan ke kampus setiap pagi selalu membuatku ingin berlama-lama, kadang sengaja berputar supaya lebih lama sampai tujuan. Demi bisa melihat warna-warni sekitar lebih lama dan menghirup udara musim semi lebih banyak. Perjalanan pulang di malam hari pun tidak kalah membahagiakan. Dalam cahaya temaram, bunga-bunga di sekitar mengundang decak syukur yang tak berkesudahan. Dengan kamera handphone seadanya, sering aku berhenti di depan pohon berbunga untuk mengambil gambar ciptaan indah-Nya. Sesekali aku mengirimkan foto kepada saudara dan teman-teman di Tanah Air.
 “Ada festival bunga di sini tanggal ini, ada festival bunga di sana tanggal itu. Kamu mau datang?”, teman-teman seperantauan menawari untuk menikmati musim semi di festival bunga. Tapi tidak sekarang, aku tidak bisa meninggalkan kewajiban. Lebih dari cukup hadiah berbagai bunga yang banyak sekali silih berganti, yang tidak habis dinikmati saat aku berangkat ke kampus dan pulang di malam hari.
Dunia bilang wanita adalah sosok yang dekat dengan bunga. Kemudian mawar merah dikata sebagai lambang romantisme. Kuberi tahu sebuah rahasia konyol di masa lalu, bahwa aku adalah wanita biasa yang pernah berkhayal tentang seikat mawar merah datang bersama Pangeran. Tapi di musim semi ini khayalan itu dibubarkan dengan sebuah hadiah istimewa. Aku merasa layaknya Tuan Putri. Selama hampir dua pekan mendapat pohon-pohon penuh bunga mawar merah mekar sempurna, yang menyambut pagi dan mengantar pulang setiap malam. Bukan lagi hanya seikat. Sungguh, Tuhan Maha Romantis.
Sayangnya letak geografis yang dikelilingi banyak danau membuat daerah ini lebih dingin dan musim semi lebih pendek terasa. Setelah dipertemukan dengan sakura pertama di awal musim semi, bunga-bunga beraneka warna kemudian menghiasi pandanganku. Tapi aku tidak ingat nama bunga-bunga tersebut. Yang kuingat, musim semi adalah sangat indah. Maha indah. Sekali lagi aku ditegur untuk lebih banyak bersyukur, bahwa ciptaan dan kasih sayang Tuhan terbentang pada bumi dan isinya. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkah dustakan?

Summer pertama: Ketika tegar menjadi sebuah kesejukan.
            “Kamu akan tetap mengenakan jilbab dan baju panjang? Meski di musim panas?!”, pertanyaan serupa sering diajukan kepadaku bahkan jauh-jauh hari sebelum musim panas datang. Merekah senyum, anggukan lembut, dan menjelaskan bahwa di Tanah Air aku terbiasa menutup aurat meski dalam cuaca panas. Demikian aku sealu berusaha menjawab walaupun mereka tidak bisa paham atas pilihan hidupku. Sampai terik matahari datang mengingatkan bahwa musim panas akan segera dimulai, maka aku menjawab tanya mereka tanpa kata-kata.
            Untuk “tubuh tropis” yang dibesarkan bersama terik matahari dan keringat, musim panas pertama ini cukup menjadi obat rindu pada cuaca di Tanah Air. Akhirnya di sini aku bisa keluar dengan sandal dan tanpa jaket. Kadang suhu udara di luar memang terlalu panas, tapi aku hampir selalu berada di dalam gedung dan ruangan yang dilengkapi pendingin. Kelembaban udara yang meningkat menjadi sumber keluhan membuat teman-teman di sini bertanya tentang hijabku. Tapi aku baik-baik saja, malah pernah lebih berkeringat dan mandi tiga kali sehari di Tanah Air sana.
            Selain urusan menutup aurat, ada lagi yang membuat teman-teman sekitar tidak habis bertanya. Adalah tentang puasa di bulan Ramadhan. Beruntunglah  aku bisa beribadah di bulan suci ini, meski jauh dari kampung halaman dan dengan rasa yang tidak pernah sama. Tidak perlu menyebutkan betapa pedih dan payahnya Ramadhan ini, menyadari kesempatan berjumpa bulan suci tahun ini harus lebih dari cukup untuk menegarkan. Musim panas pertama ini mengajariku cara bersyukur dan memaknai sabar bisa beribadah puasa dalam waktu yang lebih lama. Serta belajar menegarkan dan mengendalikan rindu di dalam diri yang kian liar mendekati akhir Ramadhan.
            Puasa di bulan Ramadhan kali ini sekitar 18 jam, karena di musim panas matahari terbit lebih awal dan tenggelam lebih akhir. “Ini bukan puasa pertamaku. Kalau memang nanti keadaan tidak mendukung, aku tidak harus berpuasa. I will be fine.”, aku menjawab pertanyaan teman-teman sembari meyakinkan diri sendiri. Bagaimana rasanya puasa bersama es krim dan patbingsu bertebaran sepanjang hari? Nikmat sekali. Tapi sesungguhnya godaan kaum Adam berpuasa di musim panas jauh lebih menegangkan. Bagaimana rasanya berpuasa di tengah para wanita yang selayaknya tidak berpakaian? Mungkin nanti bisa dijawab oleh mereka.

Autumn pertama: Mari belajar mempersiapkan diri.
Lagi-lagi karena letaknya yang dikelilingi banyak danau, musim panas di sini terasa lebih terik dan lebih lama. Setelah terbiasa keluar menggunakan sandal, hembusan angin musim gugur akhirnya memberi peringatan untuk tidak lupa membawa  jaket ketika bepergian. Bagiku musim gugur pertama ini adalah musim semi versi spektrum warna yang lebih sempit. Ketika daun-daun di pohon sempurna berubah warna maka sekitar hanya akan menjadi kuning, orange, dan merah. Cantik sekali. Dan sekali lagi alam raya menunjukkan kemegahannya, menyampaikan keagungan Sang Pencipta. Tapi entah mengapa, musim gugur pertama ini berhawa sendu.
Kemudian daun-daun akan mengering, rapuh, dan kalah melawan gravitasi. Jatuh berguguran, patuh pada perintah Penciptanya untuk menyiapkan diri demi menuju musim dingin. Musim dingin berarti suhu udara menjadi sangat dingin dan kelembaban udara sangat rendah. Hanya jenis tumbuhan tertentu yang sanggup bertahan di musim dingin tanpa harus menggugurkan daunnya. “Coba kamu bayangkan kalau pohon-pohon itu tetap berdaun dan lebat, padahal di musim dingin dia akan tertutup salju yang banyak dan berat. Nanti akan banyak pohon tumbang bukan?”, demikian salah satu teman memberi penjelasan singkat.
            Aku ingat, itu adalah pohon-pohon yang sama ketika musim semi lalu berbunga dengan indahnya. Aku ingat, itu adalah pohon-pohon yang sama ketika musim panas lalu terlihat amat tangguh berkawan terik matahari bersama daun-daun hijaunya. Tapi musim gugur ini adalah masanya bagi mereka, untuk mempersiapkan diri menyambut musim dingin. Apakah menyakitkan bagi mereka kehilangan bagian-bagian diri, kehilangan pesona yang disuguhkan kepada orang banyak, atau kehilangan kesempatan untuk mungkin bisa menebar manfaat dengan keadaan yang lengkap? Jawabannya adalah sekarang Tuhan ingin mereka siap, agar pohon-pohon itu tetap indah dan tetap tangguh nanti di musim-musim  selanjutnya.
            Musim gugur ini menyadarkanku agar selalu siap untuk taat pada segala macam kemungkinan dan kebetulan yang akan terjadi. Sesulit apapun nanti, aku hanya harus siap. Karena sesungguhnya Tuhan mempersiapkan agar kita menjadi hamba yang lebih baik.  Bukankah untuk setiap kesulitan akan datang kemudahan? Tidak hanya untuk aku dan kamu, tapi sungguh janji itu akan ditepati untuk seluruh alam raya. Pohon-pohon di musim gugur ini membuktikannya. Setelah kesulitan, akan datang kemudahan.


In memories of Chuncheon, Kangwon-do.

Thank you for the great and complete four-seasons.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar